Jenis-Jenis Korupsi

Jenis Jenis Korupsi (Materi Pemberantasan Korupsi)
Sumber: Prof. Dr. Laurence A. Manullang, Teori & Aplikasi Manajemen Komprehensif Integralistik, Edisi Revisi, UTIRA Press, Jakarta, 2014, hal 390-393.

The association of Certified Fraud Examiners defines occur potensional fraud as: “the use of one’s occupation for personal enrichment through the deliberate misuse or misapplication of the employing’s sources or assets”.

Kecurangan adalah penggunaan kedudukan memperkaya pribadi melalui penyalahgunaan yang disengaja atas sumber daya dan aset organisasi atau perusahaan. Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa kecurangan adalah penipuan yang disengaja, dengan mendukung penipuan itu dengan kebohongan, penjiplakan, penggelapan, penipuan, pencurian untuk memperoleh sesuatu keuntungan yang tidak adil atau tidak pantas pada orang lain dilakukan secara paksa atau halus dengan kecerdikan manusia melalui perbuatan yang tidak benar, tidak jujur.
Kecurangan terdiri atas dua jenis yakni:
a) Kecurangan pelaporan keuangan (fraudulent financial reporting)
b) Penyalahgunaan harta kekayaan (misappropriation of assets)
Kecurangan terjadi disebabkan oleh pilar trapesium sebagai berikut:
b. Opportunity – Terbukanya ada peluang (opportunity)
melakukan kecurangan. Opportunity ini terbuka oleh sebab:
1) Lemahnya struktur organisasi
2) Tidak ada sistem control yang memadai
3) Tidak ada Standard Operating Procedure yang jelas dan mengikat
4) Kurangnya personal yang kapabel menjadikan internal control
5) Jabatan terlalu banyak merangkap, misalnya staff financing menerima cash orang yang sama
membukukannya
6) Internal audit tidak berfungsi
7) Tidak adanya policy (kebijakan) yang jelas
8) Tidak adanya code of ethic
9) Hampir tidak pernah ada rotasi karyawan
c. Desire
b) Ada memang niat melakukan kecurangan
c) Melihat teman yang kaya karena melakukan kecurangan, sehingga di perusahaan organisasi
publik ada wilayah basah dan kering
d) Hasrat untuk memperkaya bagi pelaku kecurangan
a) Menghalalkan semua cara, walaupun dia termasuk tekun melakukan perintah agamanya. Tetapi
karena desire ini dia membuat definisi sendiri, yaitu beribadah itu adalah suatu kewajiban, dan
mencuri/melakukan kecurangan itu adalah mata pencaharian.
a. Pressure – Motivasi – juga kecurangan ini disebabkan tekanan atas motivasi
a) Tekanan karena kebutuhan (pressure by needs).
Gaji terlalu rendah, ingin mengirimkan anak kesekolah yang mahal. Kebutuhan hidup seharihari.
Kebutuhan ini memang meningkat dari tahun ke tahun, seperti Abraham Maslow menguraikan
dalam Teori Kebutuhannya.
Physical needs – kebutuhan dasar – papan, pangan dan sandang.
Security needs – adalah kebutuhan dasar diperoleh, diikuti dengan kebutuhan pengamanan
Social needs – keadaan meningkat pada kebutuhan sosial
Self esteem needs – kebutuhan diakui dan dihormati
Self actualization ‐ kebutuhan dihargai sepanjang masa
b) Tekanan karena keserakahan (pressure by greeds).
Sudah memiliki tetapi ingin mempunyai lebih lagi. Bukan hanya telur ayam yang dicuri tetapi ikut
induknya disembelih karena keserakahan ini dipengaruhi oleh perbandingan pola hidup di negara‐negara kaya dilihat melalui internet, juga pengaruh ingin berkompetisi dengan tetangga yang kaya.
c) By revenge – karena balas dendam. Merasa semua serasa telah dikuras habis‐habisan tetapi tidak dapat imbalan sesuai dengan harapan
d) Rationalization – dibuat kesimpulan sendiri. Diambil dari uang‐uang kas perusahaan dengan
mengatakan akan dibayar kembali, ini sebagai pinjaman saja buat sementara.
Selanjutnya menurut penelitian Tommie W.Singleton, 2006 ada 25 alasan karyawan/staff berbohong, menipu, mencuri dalam pekerjaannya
1. The employee believes he can get away with it
Karyawan percaya dia dapat melakukannya tanpa diketahui
2. The employee thinks she desperately needs or desires the money or articles stolen
Karyawan berpikir dia betul‐betul membutuhkan atau menginginkan uang atau barang yang dicuri
3. The employee feels frustrated or dissatisfied about some aspects of the job
Karyawan merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari pekerjaan
4. The employee feels frustrated or dissatisfied about some aspect of his personal life that is not job related
Karyawan merasa frustasi atau tidak puas mengenai beberapa aspek dari kehidupan pribadinya yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaannya
5. The employee feels abused by the employer and wants to get even
Karyawan merasakan perlakuan yang tidak tepat dari pimpinan dan ingin membalasnya
6. The employee fails to consider the consequences of being caught
Karyawan gagal mempertimbangkan konsekuensinya untuk ditangkap atau ketahuan
7. The employee thinks: “everybody else steals, so why not me?”
Karyawan berpikir: “setiap orang lain mencuri, kenapa saya tidak”.
8. The employee thinks: “they’re so big, stealing a little bit won’t hurt them.”
Karyawan berpikir: “perusahaan ini begitu besar, mencuri sedikit saja tidak akan merugikan
perusahaan”.
9. The employee doesn’t know how to manage her own money, so is always broke and ready to steal
Karyawan tidak mengetahui bagaimana mengatur uangnya sendiri sehingga dia selalu kehabisan uang dan siap untuk mencuri
10. The employee feels that beating the organization is a challenge and not a matter of economic gain alone
Karyawan merasa bahwa mengalahkan suatu organisasi adalah suatu tantangan dan bukan suatu
persoalan perolehan ekonomi saja
11. The employee was economically, socially, or culturally deprived during childhood
Karyawan kehilangan secara ekonomis, sosial dan budaya, pada saat masa kanak‐kanaknya
12. The employee is compensating for a void felt in his personal life and needs love, affection, and friendship
Karyawan mengkompensasikan kekosongan yang dirasakan dalam hidupnya dan membutuhkan cinta, kasih sayang, dan persahabatan
13. The employee has no self control and steals out of compulsion
Karyawan tidak memiliki pengendalian diri dan kemampuan untuk melepas dari tekanan
14. The employee believes a friend at work has been subjected to humiliation or abuse or has been treated
unfairly
Karyawan percaya seorang rekan sekerjanya telah mengalami perlakuan yang tidak tepat, penghinaan dan diperlakukan secara tidak adil
15. The employee is just plain lazy and will not work hard to earn enough to buy what she wants or needs
Karyawan malas dan tidak bekerja keras untuk memperoleh penghasilan yang cukup untuk membeli
apa yang dia inginkan atau butuhkan
16. The organization’s internal control are so lax that everyone is tempted to steal
Pengendalian internal organisasi sangat lemah sehingga setiap orang berusaha untuk mencuri
17. No one has ever been prosecuted for stealing from the organization
Tidak seorang pun pernah dihukum karena mencuri dari organisasi
18. Most employee thieves are caught by accident rather than by audit or design. Therefore, fear of being
caught is not a deterrent to theft
Kebanyakan karyawan yang mencuri ditangkap secara tidak sengaja bukan atas dasar pemeriksaan. Oleh sebab itu ketakutan untuk ditangkap bukan merupakan penangkalan pencurian
19. Employees are not encouraged to discuss personal or financial problems at work or to seek management’s
advice and counsel on such matters
Karyawan tidak pernah diminta untuk mendiskusikan masalah pribadi atau keuangan atau mencari nasihat dari konsultasi dan manajemen untuk hal‐hal yang demikian
20. Employee theft is a situational phenomenon. Each theft has its own preceding conditions, and each thief
has her own motives
Pencurian oleh karyawan adalah suatu fenomena situasi. Setiap pencurian memiliki kondisi awal
tersendiri, dan setiap pencurian mempunyai motif yang sendiri pula
21. Employees steal for any reason the human mind and imagination can conjure up
Karyawan mencuri untuk alasan apapun yang dapat membangkitkan pikiran dan imajinasinya
22. Employees never go to jail or get harsh prison sentences for stealing, defrauding, or embezzling from
their employers
Karyawan tidak pernah masuk penjara atau mendapatkan tuntutan yang keras untuk pencurian,
atau penggelapan uang dari pimpinan perusahaan
23. Human beings are weak and prone to sin
Manusia itu lemah dan cenderung berbuat dosa
24. Employees today are morally, ethically, and spiritually bankrupt
Karyawan dewasa ini bangkrut secara moral, etika, dan agama
25. Employees tend to imitate their bosses. If their bosses steal or cheat, then they are likely to do it also
Karyawan cenderung meniru pimpinannya, jika pimpinan mencuri atau menipu kemungkinan besar
akan melakukan hal yang sama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *