Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian III)

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian III)

Media: Ada cerita bahwa Raja Sijorat Panjaitan yang telah melantik salah seorang keturunannya jadi Raja Sijorat X (dari cucu Raja Sijorat VIII). Kapan kira-kira Raja Sisingamaraja XIII dilantik untuk meneruskan dinastinya?.

Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII

Prof. Dr. Laurence M: Beberapa bulan lalu, Raja Sijorat Panjaitan dari Sitorang dipestakan perjuangannya oleh Panjaitan dan mereka melantik generasi penerus Raja Sijorat Panjaitan menjadi Raja Sijorat ke X. Mungkin LABB nanti bisa komunikasi dengan Generasi Raja Sijorat yang baru dilantik itu, untuk menghimpun bahan dalam rangka mempersiapkan kedatangan Raja Batak sebagai penerus Raja SSM XII. Supaya Piso Gaja Dompak datang lagi, seperti yang dialami oleh Raja SSM I sampai XII, untuk kemudian menjadi Raja SSM XIII.

Sisingamangaraja adalah suatu dinasti, yang kedinastiannya hanya bisa diteruskan oleh keturunannya langsung. Demikian pula Raja Sijorat. Dalam kerajaan mereka sudah sepakat bahwa Bona ni pasogit sebelah timur diwakilkan pada Raja Sijorat dan sepakat bahwa Raja Sijorat adalah Raja Paidua. Kalau mereka ada pertemuan Sisingamangaraja XII, memakai Baringin dan Raja Sijorat memakai Bane-bane.

Raja Sijorat ke VIII adalah pejuang yang sangat setia pada Sisingamangaraja XII. Berjuang sampai dengan titik darah penghabisan. Dan beliau wafat di Rumah Sakit Balige. Bahasa Raja Sijorat adalah Sisingamangaraja adalah ‘Anggi di Partubuon, alai Haha di Harajaon’ (Adik dari dalam silsilah kelahiran, tapi Kakak dalam Kerajaan). Dan itulah yang dikonfirmasikan Raha Saidi yang dinobatkan jadi Raja Sijorat ke IX waktu beliau berkunjung kerumah saya dulu.

Panjaitan adalah pomparan ni Tuan Dibangarna, keturunan Sibagot Ni Pohan, anak sulung dari Sorba Ni Banua. Sedang Sisingamangaraja adalah Sinambela, keturunan Si Raja Oloan, anak ke-4 dari Sorba ni Banua. Makanya secara silsilah, Panjaitan adalah si-abangan. Makanya tadi dikatakan, haha di partubuan alai anggi diharajaon.

Haha di Partubu alai Anggi di Harajaon, sama dengan sekarang, Pomparan Guru Tatea Bulan sebagai Haha dari Raja Sumba di Partubu. Tapi, Pomparan Guru Tatea Bulan jadi Anggi di Harajaon, memegang jabatan eksekutif. Namun Guru Tatea Bulan memegang ilmu segala hadatuon

Media: Apakah memungkinkan Raja Sisingamaraja XIII akan dilantik seperti yang dilakukan oleh Raja Sijorat telah melantik Raja Sijorat X?

Lukisan Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Lukisan Raja Sisingamangaraja XII

Prof. Dr. Laurence M: Kala itu, saat Raja Sisingamaraja XII gugur, semua rakyat Batak menginginkan untuk melantik Raja Buntal, putra Sisingamangaraja XII jadi Raja Sisingamaraja XIII. Tapi Belanda melarang. Menyebut nama Raja Sisingamarajapun dilarang. Sebab nama itu tetap melegenda di masyarakat Batak.

Kemudian putra Raja Buntal, Patuan Sori juga ada dimaksud untuk meneruskan dinasti itu. Tetapi saat masih muda belia, Patuan Sori meninggal. Kemudian masyarakat Batak menunggu anaknya Patuan Sori lahir. Dan benar, anaknya yang diberi nama Raja Tonggo lahir dua bulan setelah ayahnya meninggal. Ada maksud  si Onom Ompu melantiknya jadi Sisingamaraja XIII, tunggu setelah dewasa.

Sekarang Raja Tonggo sudah dewasa dan telah menjadi dewasa, dia enggan menerima ditabalkan jadi Raja Sisingamaraja XIII, karena amang udanya masih ada yaitu Raja Napatar Sinambela, putra Raja Barita adik dari Raja Buntal Sinambela, yang direncanakan jadi Raja Sisingamaraja XIII tetapi dilarang Belanda.

Solusinya adalah, win-win solution. Agar si Onom Ompu yang terdiri dari marga-marga: Bakara, Sinambela, Sihite, Manullang, Marbun, dan Mamora, tetap menetapkan Raja Buntal jadi Raja Sisingamaraja XIII. Dan Patuan Sori Raja Sisingamaraja XIV, dan Raja Tonggo Sinambela jadi Raja Sisingamaraja XV. Dan pamannya, Raja Napatar Sinambela jadi Ketua Paniroi (Penasehat) yang disebut dalam konstitusi Amerika adalah Chairman of Advisory Council. Dan di Indonesia dapat disebut Ketua Pertimbangan Kerajaan.

Sebab pada waktu ada pesta Si Raja Oloan di Bakara tahun 1989, di tempat peristirahatan yang disediakan pada kami dan beberapa haha doli (abangan) Sinambela, ada seorang marga Sinambela menghampiri dan kesurupan Raja Sisingamaraja XII dan berkata: “Nunga marimbulu tangan ni anakki” katanyaa, yang diterjemahkan, bahwa Raja Tonggo sudah mulai dewasa. Kenapa dikatakan anakki atau anakku? Karena Raja Tonggo itu adalah anak dari cucunya Patuan Sori, sehingga menjadi anak mangulahi (kembali menyebut anak). Biar solusi ini diteruskan pada si Onom Ompu dan Keturunan Si Raja Oloan.

Media: Nampaknya Raja Sijorat Panjaitan akan diusulkan jadi Pahlawan Nasional. Akankah memori dari Prof ini bisa membuka jalan?. Atau mungkin diseminarkan?

Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara
Foto: Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara

Prof. Dr. Laurence M: Perlu juga kita menuliskan memori itu dalam buku, untuk diseminarkan dan dicetak. Mencerdaskan Bangso Batak, semangat dalam interaksi kehidupan kenegaraan, kendati mungkin hingga pasca pemerintahan Joko Widodo. Supaya LABB tampil beda dari yang lain dan organisasi Batak yang sangat banyak jumlahnya.

Jadi, semoga Raja Sijorat Panjaitan jadi Pahlawan Nasional. Ada dua pejuang Batak antri jadi pahlawan Nasional yaitu Raja Sijorat dan keturunannya, sudah memperoleh rekomendasi dari  Pemerintah Sumatera Utara. Dan semua persyaratan itu sudah diserahkan kepada Kementerian Sosial untuk selanjutnya diserahkan kepada Sekretaris Militer, untuk memperoleh Surat Keputusan Presiden.

Dan Tuan M.H Manullang yang sejarah perjuangannya dari tahun 1915 sampai 1940 berhasil diungkap Dr Lance Castles, berupa disertasi PhD, di Yale University dengan judul “The Political Life of Sumatran Residency Tapanuli 1915-1940”. Keturunannya sekarang sedang menunggu keputusan Presiden. Belum diputuskannya mereka jadi Pahlawan Nasional karena ada yang kurang, yaitu kisah-kisah perjuangannya harus di seminarkan, dan hasil seminar itu akan dijadikan sebagai pendukung usul jadi pahlawan tersebut. Itu menurut informasi terakhir yang kita peroleh dari keturunannya sebagai pengusung usul jadi Pahlawan Nasional.

Media: Bagaimana sesungguhnya karakter Belanda zaman dulu? Katanya, ratusan kali menjanjikan memberi kemerdekaan kepada Bung Karno dan selalu diingkari, benarkah?

Prof. Dr. Laurence M: Sepengetahuan saya dan pengalaman saya dengan orang-orang Belanda, selalu taat janji dan tepat janji. Sangat berbeda dengan jiwa Belanda zaman penjajahan. Horas ma.

Demikian wawancara yang dilakukan awak media batakindonesia.com dengan Profesor yang sangat bersahaja ini. Tak disangka, Guru Besar bidang Ilmu Akuntansi ini mengetahui banyak kisah seputar Piso Gaja Dompak dan Raja Sisingamaraja XII, yang tentunya dapat menambah khasanah cerita terkait yang sudah ada selama ini.

Sementara itu, pemikitannya mengenai ‘Win-win solution’ tentang kelanjutan generasi penerus dinasti Raja Sisingamangaraja XII dan selanjutnya, tentu sangat mungkin dimatangkan oleh pihak keluarga dan lingkungan keluarga terkait. Semoga bermanfaat bagi bangsa Indonesia, khususnya Bangso Batak!

sumber : https://batakindonesia.com/raja-dan-ratu-belanda-datang-jadi-ingat-piso-gaja-dompak-raja-sisingamaraja-sudah-kembali-bagian-iii/

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian II)

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian II)

Media: Bagaimana pasukan Belanda memastikan bahwa yang tertembak itu adalah Raja Sisingamaraja, mengingat sebelumnya dikisahkan bisa menghilang?

Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII

Prof Dr. Laurence M: Belanda mendatangkan sahabat Raja Sisingamaraja yang merangkap informan beliau di Balige, yaitu ompung Manullang, ayah dari Tuan M.H Manullang. Ompung ini mengidentifikasikan mayat itu melalui dua ciri khas yaitu: Melihat bekas luka beliau di bahu pada waktu perang Pulas di Balige; dan kedua adalah, setelah dibuka mulutnya dan memang lidahnya berbulu. Maka jelaslah bahwa yang gugur itu adalah Raja Sisingamaraja XII.

Media: Ngomong-ngomong, kenapa Raja dan Ratu Belanda datang ke Tanah Batak, tapi tidak mampir ke Bakkara sebagai tanah leluhur dan tempat makam Raja Sisingamangaraja XII ya pak Prof? 

Prof. Dr. Laurence M: Ya memang mungkin tidak ada yang menjadwalkan Raja dan Ratu Belanda kunjungi Bakkara secara khusus. Tentu itu dapat dipahami. Karena bisa saja mengingatkan luka lama. Apalagi kalau benar peristiwa genosida pembakaran seluruh asset bangunan kerajaan SSM XII dan perampasan benda-benda pusaka warisan turun-temurun mulai dari SSM I sampai XII, ketika perang Batak. Maka itu hanya bisa diampuni dengan mengadakan Horja Bolon (Pesta derderajat tinggi) antara Pemimpin Batak dengan Raja Belanda.

Horja Bolon itu sebagai sendi dan seni Perdamaian Dunia yang merupakan prinsip Perdamaian Universal yang ditegakkan oleh UN (United Nation), dimana semua anggota UN wajib melakukan itu.

Diplomat Dewan Mangaraja Adat Batak LABB (Lokus Adat Budaya Batak) yang ahli dibidang itu,  nampaknya perlu melakukan upaya diplomasi kreatif dan terukur.

Media: Bagaimana tadi kelanjutan cerita penyerangan serdadu Belanda terhadap Raja Sisingamangaraja. Apa yang Prof ketahui lagi?

Prof. Dr. Laurence M: Dua hari setelah Sisingamangaraja XII gugur, yaitu tanggal 19 Juni 1907, terjadi reaksi terhadap Belanda di Simanullang Toruan, di Sihotang, dan daerah Samosir bergolak. Namun semua yang mengadakan perlawanan ditangkap. Ompu Tuan Nabijak Manullang kemudian didenda 3000 guilders. Sihotang didenda 1000 guilders. Ompu Marhehe Malau bersama 10 anak buahnya gugur. Kemudian terjadi pemberontakan Si Hudamdam. Namun pemimpinnya berhasil ditangkap, seperti Laham Manullang dan Biding Simatupang, yang kemudian diketahui dibuang ke Digul.

Sedangkan Ompung Tanggurung Munte, dibuang ke Ombilin, Sawahlunto. Ompung Ganjang Manullang dibuang ke Gunung Sitoli. Garam Manullang dibuang ke Nusakambangan. Peter Manullang dibuang Tanah Grogot, Kalimantan. Mereka masing-masing dihukum 8 (delapan) tahun. Belanda memang marah, sebab dalam pemberontakan si Hudamdam ini, kanselir WCM Muller Siborong-borong tewas. Demang dan Asisten Demang Siborong-borong juga luka-luka. Namun sebelum Sisingamangaraja XII gugur tahun 1907, Guru Somalaing Pardede, seorang datu, Panglima Sisingamangaraja XII, dan Pemimpin aliran Parmalim, dibuang pasukan Belanda ke Kalimantan, dan meninggal disana pada tahun 1896.

Lukisan Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Lukisan Raja Sisingamangaraja XII

Media: Wah, 3000 gulden? Kira-kira senilai berapa itu sekarang? Dan banyak yang dibuang Belanda kemana-mana ya?.

Prof. Dr. Laurence M: Ya. Ternyata pahlawan Kemerdekaan R.I itu sangat banyak dari Tanah Batak, yang gugur dan ditangkap Belanda. Itu saja yang berada di lingkungan kerajaan. Belum lagi pejuang-pejuang Batak lainnya. Bahkan sampai di denda 3.000 gulden. Itu bisa membeli mobil Hammer anti peluru, kalau di investasikan sejak perang Batak sampai sekarang.

Makanya di tanah Batak itu terukir sejarah monumental yang tidak bisa dilupakan. Bahkan pada waktu saya mampir di Belanda tahun 1976 itu tadi, saya suruh orang Belanda itu angkat koper saya dari lobby ke kamar hotel. Karena saya melihat udah agak tua, saya pikir pasti tentara pensiunan yang pernah bertugas di Indonesia. Tapi kasihan juga dan nggak tega. Saya kasih juga tip. Hmm…

Media: Raja Sisingamangaraja diketahui juga ahli strategi. Bagaimana dulu kira-kira strategi perangnya, dalam menghadapi Belanda ya?

Prof. Dr. Laurence M: Sisingamangaraja-lah yang mengumumkan perang Pulas tahun 1878, dan perang pertama diadakan di Toba Balige. Alpiso, putra  Ompu Bontar Siahaan, Panglima Sisingamangaraja memobilisasi 20.000 bala tentaranya  dari  Tangga Batu, bergabung dengan pasukan Sisingamangaraja yang lain di Balige, untuk menghadapi Belanda. Kemudian Raja Partahan Bosi dari Si Raja Deang Hutapea, Panglima SSM XII di Laguboti yang terkenal dengan hoda Bonggalanya, ikut perang pula.

Pasukan Raja Sijorat Panjaitan yang mempunyai ilmu sangat tinggi juga bergabung dengan rakyat, dan tidak tinggal diam. Semua angkat senjata menghadapi Belanda, hingga kemudian Belanda kewalahan. Dari info inteligent, para Panglima SSM XII dapat info, bahwa bala bantuan tentara Belanda lengkap dengan meriam didatangkan dari Tarutung, Tapanuli. Maka para Panglimanya menyarankan agar SSM XII menyingkir ke Bakkara dan menantikan Belanda untuk pertempuran dahsyat di Bakkara. Disitulah ditemukan kekompakan orang Batak dalam menggelar perang rakyat semesta.

Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara
Foto: Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara

Kemudian, menjelang tanggal 29 April 1878, Si Raja Deang Hutapea siap dengan tentaranya. Raja Sijorat Panjaitan dari Sitorang siap bersama para pejuang tangguh. Dari Pangaribuan dan pasukan Panglima Alpiso Siahaan dari Tangga Batu, dan pasukan setia lannya SSM XII sendiri siap untuk perang Pulas tanggal 29 April 1878 di Balige. Dan dibantu oleh pasukan perang dari uluan dan Porsea

Media: Mengenai kesaktian Piso Gaja Dompak itu, pangkal pisaunya satu tapi katanya ujung depannya bercabang dua, sehingga tidak bisa dicabut oleh siapapun selain SSM I sampai XII. Benarkah?

Prof. Dr. Laurence M: Ya, kalau menurut legenda, tatkala Piso Gaja Dompak itu bisa dicabut, maka piso itu marmehet-mehet (berdesir-desir) seperti suara kambing. Yang jelas, pisau itu hanya ada di kalangan keturunan raja.

Ceritanya, ketika SSM XII berumur 6 tahun, dia memanjat pohon dan menggantungkan kakinya di cabang pohon, tapi kepalanya kebawah. Apa yang terjadi? Seketika itu juga, semua padi di Bakkara posisinya menjadi terbalik, dimana akar padi itu keatas dan ujung daun padi menukik kebawah. Lalu masyarakat setempat menyampaikan itu kepada SSM XI. Maka SSM XI pun sadar bahwa calon penggantinya telah lahir.

Itu fakta bahwa Piso Gaja Dompak adalah tanda keselamatan Batak dari Mulajadi Nabolon, yang diserahkan kepada Raja Uti, dan selanjutnya dihadiahkan kepada SSM I sampai XII. Sebab Raja Uti itu lahir tidak mempunyai kaki dan tangan. Wajahnya juga berbeda dengan manusia biasa. Tubuh Raja Uti penuh dengan Rambut yang tidak bisa digunting dengan apapun.

sumber : https://batakindonesia.com/raja-dan-ratu-belanda-datang-jadi-ingat-piso-gaja-dompak-raja-sisingamaraja-sudah-kembali-bagian-ii/

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian I)

Raja dan Ratu Belanda Datang, Jadi Ingat Piso Gaja Dompak Raja Sisingamaraja Sudah Kembali (Bagian I)

Kehadiran Raja Belanda, Willem Alexander, bersama istrinya Ratu Maxima Zorreguieta dan rombongan ke Kabupaten Toba, Tapanuli Utara, dan Samosir, Sumatera Utara (Sumut), Kamis (12/03/2020) lalu, menjadi topik hangat di berbagai media lokal, Nasional maupun Inrternasional.

Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII

Kedatangan Raja dan Ratu Belanda itu tak luput juga dari pembicaraan masyarakat, dan tentu saja tidak bisa lepas dari zaman penjajahan Belanda selama 350 tahun di Nusantara. Padahal mungkin Raja Belanda yang sekarang inipun tidak tahu persis peristiwa penindasan waktu itu. Sehingga diapun belajar dari sejarah nenek-moyangnya, makanya sang Rajapun mengucapkan mohon maafnya ketika tiba di Yogyakarta, sebelum kunjungannya ke Tanah Batak.

Berbicara soal Belanda, terkait dengan benda pusaka Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII (SSM XII), Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM, keturunan Si Raja Oloan (satu rumpun dengan Raja Sisingamangaraja Sinambela), yang juga Pendiri dan Rektor Universitas Timbul Nusantara–IBEK, mengatakan syukurlah barang pusaka Piso Gaja Dompak milik Raja Sisingamangaraja XII sudah kembali ke pangkuan Republik Indonesia, setelah lama tersimpan di Belanda.

Piso Gaja Dompak itu kini berada di Museum Nasional dengan Nomor Register 13425. Senjata pusaka itu dulu diketahui memiliki histori yang tidak bisa lepas dari sepak terjang keturunan Raja Sisingamangaraja dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda. Bernama gaja dompak lantaran bermakna ukiran berpenampang gajah pada tangkai bagian depan senjata itu. Senjata ini hanya digunakan dikalangan raja-raja saja. Mengingat senjata ini juga merupakan pusaka kerajaan, barang pusaka ini tidak diciptakan untuk membunuh atau melukai orang lain.

Benda pusaka ini dianggap memiliki kekuatan supranatural, yang akan memberikan kekuatan spiritual kepada pemiliknya. Senjata ini juga merupakan benda yang dikultuskan dan kepemilikan senjata ini adalah sebatas keturunan raja-raja, atau dengan kata lain senjata ini tidak dimiliki oleh orang-orang di luar kerajaan.

Lukisan Raja Sisingamangaraja XII
Foto: Lukisan Raja Sisingamangaraja XII

Bicara lebih jauh soal Piso Gaja Dompak dan cerita lainnya pengalaman Prof. Dr. Laurence Adolf Manullang, SE., SP., MM saat berkunjung ke Belanda, wartawan media online batakindonesia.com sempat melakukan wawancara medio Maret 2020, yang dilanjutkan dengan komunikasi berbalasan lewat WhatsApp, dan menuturkan berbagai kisah yang dia ketahui, yang kemudian merambah komunikasi dengan seorang tokoh dari DMAB (Dewan Mangaraja Adat Batak) LABB (Lokus Adat Budaya Batak), Ir. Nikolas S. Naibaho, MBA. Berikut himpunan petikannya.

Media: Horas Prof. Apa cerita tentang kedatangan Raja dan Ratu Belanda ini bagi bangso Batak, terutama kaitannya dengan kisah Piso Gaja Dompak yang katanya tersimpan lama di Belanda?

Prof. Dr. Laurence M: Syukurlah Piso Gajah Dompak milik Raja Sisingamaraja XII telah diserahkan kepada Republik Indonesia, dan disimpan di Museum Nasional dengan Nomor Registrasi 13425. Namun seyogiyanya penyerahan itu harus didukung oleh dokumen penyerahan oleh Belanda ke Indonesia. Sebab pada waktu saya pergi ke Leiden Belanda tahun 1976, saya sempat menanyakan tentang keberadaan Piso Gajah Dompak itu. Direktur museum itu yang bernama Dr Ave mengatakan, bahwa Gaja Dompak disimpan oleh museum khusus di Den Haag, dimana yang pegang kuasa museum itu, langsung Pangeran Benhard.

Semua barang bersejarah dari pahlawan Indonesia seperti pisau Pattimura, Pisau Monginsidi dan lain-lain, disimpan dalam museum istimewa tersebut. Yang disimpan di museum Leiden adalah ratusan Tunggal Panaluan sebagai contoh diberikan pada saya untuk dipegang dan diambil fotonya. Tunggal Panaluan itu adalah milik Raja Si Babiat Situmorang dan Guru Somalaing Pardede yang katanya paling banyak isinya. Ukuran yang paling banyak isi adalah paling banyak membunuh musuh. Juga saya ditunjukkan dua lemari setinggi saya, yang berisi pustaha (pustaka) Batak, yang ditulis oleh Raja Sisingamangaraja XI sebanyak 23 jilid yang rencananya menulis 24 jilid tapi keburu perang. Sehingga jilid ke-24 tidak sempat ditulis.

Disana juga ada Museum Batakologi di Leiden, dimana museum itu adalah milik swasta dan undang-undang swasta yang melindunginya. Sedang museum yang Den Haag itu adalah milik Pemerintah Belanda. Foto-foto yang saya ambil itu langsung saya kirim kepada Raja Na Patar Sinambela (cucu tertua Raja Sisingamangaraja XII, dengan alamat Jln, Sei Wampu 82, Medan dari Leiden. Agar cepat mereka dapat informasi itu. Karena saya harus melanjutkan perjalanan ke New York. Dan info ini adalah materi pendahuluan untuk Prof. Dr. Bonar Sijabat untuk mengadakan research mendalam ke Leiden, dan terus ke Jerman sebagai cikal bakal terbitnya buku Ahu Sisingamangaraja (Aku Sisingamangaraja).

Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara
Foto: Makam Raja Sisingamangaraja XII di Bakkara

Sementara suatu ketika, kita sebagai Panitia Pemugaran Istana Sisingamangaraja di Bakara, menugaskan Ketua I, Prof. Dr. Bonar Sijabat mengadakan riset atas dukungan sponsor media cetak Sinar Harapan, yang membiayai beliau ke Eropa dan ke Halmahera. Dan saya sebagai Ketua Panitia dan Bapak Arifin Harahap SH, Presiden Direktur Bank Pasifik, mencari dana dalam pembangunan itu. Saya menghubungi Direktur Purbakala R.I dan beliau menginformasikan dana itu ada. Tapi pembangunannya harus melalui tender. Maka saya hubungi Wakil Presiden RI, Adam Malik waktu itu, kalau boleh dana itu dapat dikucurkan dengan sistem penunjukan kepada Kolonel Bonardo Dairi Manullang, yang selanjutnya dicairkanlah melalui Kantor Purbakala Medan. Itulah historis pembangunan kembali Istana Raja Sisingamangaraja itu sekarang. Hanya catatan saja dan tidak bisa hilang walaupun tidak ada maksud melupakannya.

Media: Sepertinya ada cerita yang luput dari catatan sejarah ya Prof?

Prof. Dr. Laurence M: Adalah sikap orang Indonesia sering mengambil manfaat atas buah pikiran dan keringat orang lain, dengan menonjolkan diri pada proses perjalanan, apalagi digunakan untuk kepentingan pribadi. Dan kadang tega mengabaikan bahkan melupakan sejarah itu sendiri. Hanya TNI yang selalu apik mencatat sejarah. Seperti Sapta Marga prajurit Indonesia yang ditulis tangan oleh Jenderal TB Simatupang selalu itu dibacakan pada peringatan bersejarah TNI. Artinya tidak pernah itu dilupakan walaupun Simatupang sudah lama meninggalkan ketentaraan. Jadi di Indonesia baru TNI yang terpercaya memegang estetika itu dan dapat dipercaya yang perlu diteladani.

Media: Katanya Piso Gajah Dompak itu sakti, dan bisa melindungi serdadu, dan Raja Sisingamaraja juga bisa menghilang. Tapi kenapa beliau bisa tertembak peluru serdadu Belanda?

Prof. Dr. Laurence M: Raja Sisingamangaraja XII memang adalah sakti. Dan kesaktiannya itu melekat pada Piso Gajah Dompak beliau. Hanya saja ada pantangannya. Kalau dilanggar, kesaktiannyapun bisa hilang. Pantangannya adalah, Raja Sisingamangaraja tidak bisa memiliki dengki sama orang, dan marah. Apalagi membangkitkan rasa ingin untuk membunuh. Pada waktu anaknya Patuan Nagari tertembak dan gugur, beliau tidak marah. Juga tatkala anaknya Patuan Anggi gugur, beliau tidak emosi dan marah.

Tapi tatkala mendengar borunya Lopian yang berumur 17 tahun  tertembak, maka amarah beliau mendidih dan ingin membunuh tentara Belanda yang sudah tak jauh darinya, tapi Belandanya tidak melihat dia. Dengan nada tinggi, beliau berteriak: “Ahu Sisingamangaraja” (Aku Sisingamangaraja). Maka kesaktiannyapun hilang, dan tentara Belanda yang berasal dari Halmahera yang bernama Hamisi menembaknya. Dan kenalah dadanya, dibawah jantungnya.

sumber : https://batakindonesia.com/raja-dan-ratu-belanda-datang-jadi-ingat-piso-gaja-dompak-raja-sisingamaraja-sudah-kembali-bagian-i/

Pidato Menristekdikti: HUT RI ke – 71

Pidato Menristekdikti: HUT RI ke – 71

Pidato MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI Pada Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 17 Agustus 2016 INDONESIA KERJA NYATA Bismillahirrahmanirrahim, Yang terhormat, …. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi, dan salam sejahtera untuk kita semua. Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan bagi kita semua, sehingga kita masih diberikan kesempatan untuk menghadiri acara peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71. Tujuh puluh satu tahun Indonesia merdeka merupakan rahmat yang tak ternilai harganya dari Allah Yang Maha Kuasa. Dengan kemampuan yang kita miliki, Indonesia menapak di jalan yang telah dibangun oleh founding fathers Bangsa kita, untuk mewujudkan sebuah negara yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Marilah kita ayunkan langkah bersama untuk bekerja secara nyata meneruskan pembangunan. Hanya melalui kerja nyata, cita-cita mulia bangsa kita sebagaimana ditegaskan dalam Pembukaan UUD 1945 dapat diwujudkan yakni dapat berdiri kokoh sebagai bangsa yang berdaulat. Kesadaran akan hal inilah yang mendasari pencanangan Gerakan Nasional “Indonesia Kerja Nyata” dalam memperingati hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71. Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati. Beberapa hari yang lalu, kita baru saja memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional ke 21. Perayaan tersebut merupakan wujud penghargaan dan apresiasi atas keberhasilan dan prestasi putera-puteri bangsa Indonesia yang gemilang di bidang iptek, selain itu juga dipamerkan berbagai produk inovasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kemandirian dan daya saing bangsa. Pada kesempatan yang sama juga telah dicanangkan tahun 2016 sebagai Tahun Inovasi. Diharapkan melalui pencanangan tahun Inovasi ini, ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy) dapat segera diwujudkan. Marilah kita lanjutkan cita-cita tersebut, dan kita isi kemerdekaan ini dengan komitmen dan semangat untuk terus bekerja nyata dalam menumbuh-kembangkan teknologi dan inovasi sebagai bekal bangsa Indonesia untuk mandiri dan berdaya saing di era globalisasi. Kita gelorakan Indonesia Kerja Nyata. Teknologi dan inovasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita dan bahkan telah menjadi faktor penggerak pembangunan. Untuk itu kita tidak dapat lagi bertumpu pada sumberdaya alam (resource driven) yang akan habis jika dikonsumsi secara terus-menerus tetapi harus dapat melakukan terobosan dimana teknologi dan inovasi menjadi motor penggerak pembangunan (innovation driven). Pembangunan Indonesia memerlukan inovasi, sebagai tulang punggung industri dan untuk terciptanya ekonomi berbasis pengetahuan. Oleh karenanya, teknologi dan Inovasi, sekali lagi, harus menjadi bagian hidup kita sehingga kita bisa memperoleh nilai tambah dari keseharian kita, dan dari situlah ekonomi bangsa akan berkembang. Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati. Inovasi merupakan sebuah proses yang antara lain ditentukan oleh tingkat keberhasilan riset dan pendidikan tinggi. Pendidikan tinggi memegang peranan penting mempersiapkan putera-puteri bangsa, generasi penerus, menjadi inovator. Sementara itu, institusi riset memegang peranan penting untuk memberikan kesempatan kepada putera-puteri bangsa melakukan karya cipta inovatif. Peneliti dan inovator yang produktif masih sangat diperlukan oleh bangsa Indonesia. Jumlah dan kualitas peneliti dan inovator di perguruan tinggi maupun institusi riset perlu terus kita tingkatkan, disamping kualitas penelitian, publikasi ilmiah dan jumlah paten yang diperoleh, serta inovasi yang diproduksi. Komitmen Pemerintah terhadap upaya peningkatan kinerja penelitian dan inovasi akan terus ditingkatkan, terutama dalam peraturan dan regulasi, pendanaan dan peningkatan investasi, peningkatan kualitas dan peremajaan laboratorium, beasiswa bagi peneliti. Tanpa kerjasama dan komitmen dari bapak/ibu dan saudara-saudara, hal itu akan sia-sia. Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati. Kemitraan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari strategi mengantarkan temuan penelitian menjadi inovasi dan produk iptek berskala pasar. Pemerintah mendorong terjalinnya kemitraan dengan berbagai lembaga dan industri yang akan meningkatkan efisiensi dan efektivitas penciptaan inovasi. Dengan demikian, peneliti dan inovator bekerja tidak sendirian dalam menghasilkan inovasi, tetapi secara bersama-sama, konvergen dan sinergis dengan berbagai pihak. Pada akhirnya perguruan tinggi dan institusi riset yang memiliki peneliti dan inovator handal yang mampu menghasilkan produk inovasi yang secara signifikan meningkatkan meningkatkan daya saing dan kesejahteraan. Untuk mengolah temuan ilmiah hasil riset menjadi inovasi diperlukan proses hilirisasi yang melibatkan bukan hanya perguruan tinggi atau institusi riset saja, tetapi juga kolaborasi dengan peneliti dari institusi dalam dan luar negeri, kemitraan dengan industri dalam dan luar negeri, serta berbagai pihak lainnya. Sistem pengelolaan proses hilirisasi yang akan mentransformasi temuan ilmiah hasil riset menjadi sebuah inovasi yang berdaya saing perlu kita bangun bersama. Dengan pengelolaan yang tepat, diharapkan akan terjadi peningkatan jumlah produk inovatif yang berskala pasar. Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati. Selanjutnya, inovasi harus terjadi bukan hanya di dunia industri saja, tetapi juga dalam berbagai aspek kehidupan untuk memberikan jawaban terhadap beragam tantangan yang dihadapi bangsa kita, misalnya kebakaran hutan, kemacetan lalu lintas, perubahan iklim, reformasi birokrasi, pembangunan infrastruktur, dan sebagainya. Dalam era globalisasi saat ini, Indonesia dihadapkan pada tantangan munculnya persaingan bebas dalam perdagangan antar bangsa. Adanya persaingan bebas ini akan menyebabkan Indonesia “diserbu” berbagai macam produk dan teknologi baru dari negara lain. Dengan inovasi, Indonesia tidak hanya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, tetapi bahkan juga dapat memenuhi pasar negara lain. Bapak, Ibu dan hadirin sekalian yang saya hormati. Dalam peringatan 71 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, mari kita wujudkan Gerakan Nasional Ayo Kerja Nyata Gelorakan Inovasi di bidang kerja kita masing-masing. Mari kita bekerja nyata ciptakan berjuta produk hasil inovasi untuk kemajuan Indonesia. Dengan bekerja nyata, sesungguhnya kita merenda masa depan Indonesia – yang maju dan unggul. Dan hanya bangsa yang mampu menghasilkan inovasi akan menjadi bangsa besar yang unggul dan berdaya saing. Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua. Selamat bekerja secara nyata dan gelorakan inovasi. Dirgahayu 71 tahun Indonesia Merdeka! Wabillahit taufiq walhidayah, Wassalamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh. Jakarta, 17 Agustus 2016 Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir